Selasa, 27 Desember 2011

ontologi, axiologi, dan epistimologi filsafat pendidikan


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Filsafat pendidikan merupakan salah satu mata pelajaran dalam perkuliahan, disini membahas tentang epistimologi, ontolgi, axiology, peran perspektifnya dalam pendidikan dan membahas subtansi tentang epistimologi, Ontologi, Axiologi. Pendekatan ontologi atau metafisik menekankan pada hakikat keberadaan, dalam hal ini keberadaaan pendidikan itu sendiri, Secara ontologis, filsafat pendidikan berusaha mengkaji secara mendalam hakikat pendidikan dan semua unsur yang berhubungan dengan pendidikan, Epistemologi adalah analisis filosofis terhadap sumber-sumber pengetahuan. Dari mana dan bagai  mana pengetahuan di peroleh menjadi kajian epistemologis, sebagai contoh bahwa semua pengetahuan berasal dari tuhan (innama al’ilm min ‘indillah, la’ilmalana illa ma’alamtana) artinya tuhan sebagai sumber pengetahuan.
                         
Rumusan masalah
·         Pengertian Ontologi pendidikan
·         Penfertian Axiologi pendidikan
·         Pengertian Epistimologi Pendidikan







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian filsafat

Kata filsafat berasal dari bahasa inggris dan bahasa yunani. Dalam bahasa inggris, yaitu philosophy, sedangkan dalam bahasa yunani philein atau philos dan sofein atau sophi . Ada pula yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari bahasa arab, yaitu falsafah, yang artinya al-hikmah. philos, artinya cinta,sedangkan Sophia, artinya kebijaksanaan. Dengan demikian, fisafat dapat di artikan “cunta kebijaksanaan atau al-hikmah.”Orang yang mencintai atau mencari kebijaksanaan atakebenaran disebut dengan filsuf. Filsuf selalu belajar dan mencari kebenaran dan kebijaksanaan tanpa mengenal batas .Mencari kebenaran dengan pendekatan filosofis yang radikal dan kotemplatif, yaitu mencari kebenaran hingga ke akar-akarnya yang dilakukan secara mendalam.

B.     Pengertian pendidikan
Pendidikan adalah usaha yang dilakukan dengan ngaja dan sstematis untuk memotivasi, membina, membantu, dan membimbing seseorang untuk mengembangkan segala potensinya sehingga ,mencapai kwalitas diri yang lebih baik.
C.    Pengertian filsafat pendidikan

Filsafat pendidikan adalah pengetahuan yang memikirkan hakikat pendidikan secara komprehensif dan kontemplatif tentang sumber, seluk beluk pendidikan, fungsi, dan tujuan pendidikan.

D.     Ontologi  pendidikan

Ontologi pendidikan,yaitu substansi pendidikan dalam semua perspektifnya,sebagaimana melihat pendidikan dari tujuan esensialnya sebagai pencapaian maksimal dari pendidikan.

Secara ontologis, filsafat pendidikan berusaha mengkaji secara mendalam hakikat pendidikan dan semua unsur yang berhubungan dengan pendidikan.

Menurut Madepidarta,ontologi filsafat pendidikan mempertanyakan hal-hal berikut.
1.      Apakah pendidikan itu?
2.      Apa yang hendak dicapai?
3.      Bagaimana cara terbaik merealisasikan tujuan-tujuan pendidikan ?
4.      Bagaimana sifat pendidikan itu?
5.      Bagaimana perbedaan pendidikan teori dengan praktik?
6.      Bagaimana hakikat kurikulum yang disajikan ?
7.      Siapa dan bagaimana para peserta didiknya?
8.      Bagaimana system pengembangan bakat anakl didik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memberikan inspirasi terhadap upaya pengembangan pendidikan yang bertujuan membentuk manusia yang berbudi luhur, rasional, terampil, dan mandiri. Manusia yang bertanggung jawab terhadap masa depan kehidupan diri, keluarga, masyarakat, dan Negara. Akan tetapi jawaban terhadap semua pertanyaan ontologis biasanya memerlukan penelitian, analisis, deskripsi, dan penjabaran. Oleh karena itu, dari ontologi filsafat pendidikan dilanjutkan oleh epistemology filsafat pendidikan.
Pendekatan ontologi atau metafisik menekankan pada hakikat keberadaan, dalam hal ini keberadaaan pendidikan itu sendiri.
Tilaar menjelaskan berbagai pendekatan mengenai hakikat pendidikan dapat digolongkan atas dua kelompok besar, yaitu:
1.      Pendekatan reduksionisme;
2.      Pendekatan holistik integrative
Literature yang sangat banyak mengenai konsep dan teori pendidikan dewasa ini tentunya tidak mungkin untuk menulusuri berbagai teori pendidikan yang ada.begitu pula, kedua pengelompokan tersebut bukan lah bersifat hitam putih tetapi sekedar menekankan garis besar dari teori-teori tersebut.selain itu, berbagai teori yang dibicarakan sangat berdekatan dan melengkapi.
Dalam perspektif holistic integratife, pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha memanusiakan manusia . Pendidikan di arahkan sepenuhnya untuk memberdayakan manusia secara lahiria dan rohaniah. Dengan pendidikan, manusia bukan hanya harus dilatih dan dikembangkan cara berfikirnya sehingga diperoleh kecerdasan intelektuialnya,melainkan dilatih dan dicerdaskan emosional dan spiritualnya. 
i)        Perspektif ontologi dalam penyelenggaraan pendidikan

Masalah-masalah pendidikan yang menjadi perhatian ontologi adalah bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan diperlukan pendirian mengenai pandangan manusia, masyarakat dan dunia. Pertanyaan-pertanyaan ontologis ini berkisar pada, apa saja potensi yang dimiliki manusia?
Menurut Maulana (2008), berbicara tentang hakikat manusia, ada dua konsep dalam filsafat, filsafat barat dan Islam. Dalam filsafat barat, konsep manusia itu ada dua yaitu hayawan (Jasmani) dan natiq (rohani). Aristoteles mendefinisikan manusia itu sebagai Human Rationale artinya manusia yang punya pikir, Socrates mendefinisikan manusia itu sebagai Animal Rationale yakni manusia yang punya akal untuk berpikir. Sedangkan Rene Descartes mengemukakan bahwa adanya manusia sebagai entitas yang berpikir merupakan sebuah kebenaran yang pasti dan tak terbantahkan yang menjadi landasan pemikiran dan pengetahuan manusia (Deraf & Dua, 2001). 
Dalam konsep Islam, manusia terdiri atas tiga unsur yaitu hayawan (jasmani), natiq (rohani) dan akal, di mana ketiga unsur tersebut dapat diibaratkan segitiga sama kaki. Dalam hal ini, ada tiga komponen dalam diri manusia yang harus dikembangkan secara proporsional sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan dari diri manusia itu sendiri. Pertanyaan yang muncul kemudian, apa yang harus lebih dulu di isi atau dididik, jasmani,  rohani, ataukah akal. Sesuatu yang pasti bahwa inti harus diisi sesuai dengan kebutuhannya, dan pengisian ketiga inti secara bersamaan tidak sesuai dengan fitrah manusia (Maulana, 2008).
Belajar tentang manusia dalam dunia pendidikan sama halnya dengan belajar tentang hakikat manusia itu sendiri. Konsep Islam lebih tepat dan sesuai dengan filsafat manusia itu sendiri, karena ada tiga hal yang sangat esensial dalam konsep ini: Rohani adalah sesuatu yang akan kembali ke Tuhan dan akan diminta pertanggungjawabannya kelak nanti di akhirat. Sementara Jasmani sesuatu yang berwujud fisik, itu berada dalam tanah. Sedangkan Akal ada di kepala sebagai suatu kelebihan manusia dari makhluk lain sebagai ciptaan Tuhan.
Dalam filsafat barat, hanya ada dua hal yang esensial pada manusia yaitu jasmani dan rohani. Namun rohani dalam filsafat barat tidak dipelajari karena sulit dipahami. Rohani hanya bisa dipelajari dalam agama, dan akal yang hebat mengakui adanya rohani. Bahkan, Immanuel Kant sebagai salah seorang filosof besar dari barat pun meyakini keberadaan Tuhan dan Akal .
Menurut Maulana (2008), dalam filsafat logika merupakan senjata untuk berargumen, sehingga filsafat bisa diterima banyak orang. Dengan logika, filosof bisa berkomunikasi tanpa data, tetapi tetap punya ukuran atau acuan. Berpikir merupakan kunci berlogika, sedangkan akal merupakan alat untuk berpikir secara logis atau berpikir yang masuk akal. Begitu pula berpikir tentang hakikat manusia, di mana manusia adalah makhluk yang ada jasmani, rohani dan akal, yaitu makhluk yang punya pemikiran yang masuk akal. Jika manusia itu jasmani, rohani dan akal, maka inti dari diri manusia itu apa? Jika ketiga komponen itu inti, membuktikan bahwa manusia itu sudah dididik. Jika intinya satu maka manusia akan mudah dididik.
Manusia sebagai wujud dari komponen Jasmani, Rohani, dan Akal merupakan makhluk yang memiliki pemikiran yang masuk akal. Oleh karena itu, manusia memiliki tiga inti yang harus dipersiapkan untuk dididik. Dalam Islam tiga hal yang esensial merupakan modal utama dalam mempersiapkan manusia yang sempurna dunia akhirat. Hal yang sangat mendasar dalam mempersiapkan manusia yang sempurna menurut konsep islam adalah “Pendidikan”. Dengan pendidikan, manusia menjadi sadar akan fungsi dan tugas dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sehingga faham tentang hakikat hidup.
Adanya pendidikan, mendorong manusia untuk menggunakan akal, berpikir secara logis, meyakini segala sesuatu yang berasal dari Tuhan. Dengan rohani manusia memiliki rasa peka, empati dan yakin terhadap kebenaran. Sehingga inti yang paling hakiki dari manusia sesungguhnya adalah rohani. Oleh karena itu, rohani merupakan inti yang paling tepat untuk didahulukan dalam mendapatkan pendidikan.  Ketika rohani mendapatkan porsi pendidikan yang baik dan lebih dahulu maka jasmani dan akal dapat mengikuti sesuai dengan porsinya. Kinerja rohani dalam tubuh sangat vital, segala ide dan perbuatan tergantung kepada kinerja rohani.
Namun demikian, apa hakekat budaya yang perlu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya? Ataukah hanya ajaran dan nilai sebagaimana terwujud dalam realitas sejarah umat manusia yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya? Inilah aspek ontologis yang perlu mendapat penegasan dalam penyelenggaraan pendidikan. 
ii)      Hubungan antara ontologi dengan pendidikan
Ontologi merupakan analisis tentang objek materi dari ilmu pengetahuan.Berisi mengenai hal-hal yang bersifat empiris serta mempelajari mengenai apa yang ingin diketahui manusia dan objek apa yang diteliti ilmu. Dasar ontologi pendidikan adalah objek materi pendidikan ialah sisi yang mengatur seluruh kegiatan kependidikan.

Jadi hubungan ontologi dengan pendidikan menempati posisi landasan yang terdasar dari fondasi ilmu dimana disitulah teletak undang-undang dasarnya dunia ilmu.

E.     Epistemologi pendidikan

Epistemologi adalah kata lain dari filsafat ilmu berasal dari bahasa latin episteme,berarti knowledge, yaitu pengetahuan dan ,berarti theory. Jadi, epistemologi, berarti “teori pengetahuan” atau teori tentang metode, cara, dan dasar ilmu pengetahuan, atau studi tentang hakikat tertinggi, kebenaran, dan batasan ilmu manusia. Dalam filsafat, epistemologi merupakan cabang filsafat yang meneliti asal, struktur, metode- metode, dan kesahihan pengetahuan. Istilah epistemilogi pertama kali dipakai oleh J.F. Ferrier, Institutes of Metaphysics (1854 M) yang membedakan dua cabang filsafat, yaitu epistemology dan ontologi. Epistemologi berbeda dengan logika. Jika logika merupakan sains formal (formal science) yang berkenaan dengan atau tentang prinsip-prinsip penalaran yang sahih, epistemologi adalah sains filosofis (Philosophical science) tentang asal usul pengetahuan dan kebenaran. Puncak pengkajian epistemologi adalah masalah kebenaran yang membawa keambang pintu metafisika.

Epistemologi adalah analisis filosofis terhadap sumber-sumber pengetahuan. Dari mana dan bagai  mana pengetahuan di peroleh menjadi kajian epistemologis, sebagai contoh bahwa semua pengetahuan berasal dari tuhan (innama al’ilm min ‘indillah, la’ilmalana illa ma’alamtana) artinya tuhan sebagai sumber pengetahuan.

Dalam epistemology,dibicarakan tentang sumber pengetahuan dan sistematikanya. Selain itu, dibicarakan pula tentang hakikat ketepatan susunan berfikir yang secara akurat pula digunakan untuk masalah-masalah yang bersangkutan dfengan maksud menemukan kebenaran isi sebuah pernyataan.

Berkaitan dengan pemikiran di atas, terdapat empat jenis kebenaran yang secara umu telah dikenal oleh orang banyak, yaitu sebagai berikut.
           
1.      Kebenaran religious, yaitu kebenaran yang memenuhi criteria atau dibangun berdasarkan kaidah-kaidah agama atau keyakinan tertentu, yang disebut juga dengan kebenaran absolut atau kebenaran mutlak yang tidak terbantahkan. Kebenaran ini bersifat religius.

2.      Kebenaran filosofis, yaitu kebenaran hasil perenungan dan pemikiran kontemplatif terhadap hakikat sesuatu.

3.      Kebenaran estetis, yaitu kebenaran yang berdasarkan penilaian indah atau buruk, serta cita-cita rasa estetis.

4.      Kebenaran ilmiah, yaitu kebenaran yang ditandai oleh terpenuhinya syarat-syrata ilmiah, terutama menyangkut adanya teori yang menunjang dan sesuai dengan bukti.

Kebenaran pengetahuan dapat pula dibagi menjadi dua macam, yaitu kebenran mutlak atau absolut dan kebenaran relative atau nisbi. Kebenaran mutlak adalah kebenaran yang tidak berubah-ubah dan tidak dapat dipengaruhi oleh yang lain. Artinya ,kebenaran yang sudah ada pada hakikat dirinya sendiri, misalnya kebenaran adanya tuhan. Adapun kebenaran relative atau nisbi adalah kebenaran yang berubah-ibah, tidak tetap, dan dapat dipengaruhi oleh hal lain di luar hakikat dirinya. Misalnya, fungsi mata dalam melihat sesuatu.

Sebagaimana oleh Juhaya S. Pradja dijelaskan bahwa teori sifat ilmu ada dua, yaitu teori “subjektivitas” dan “objektivitas”. Teori tersebut dirumus kan Dari kaidah adzimah mutsya’ibah yang diterjemahkan dengan “teori agung yang bercabang banyak”. Teori ini menyatakan bahwa setiap ilmu memiliki dua sifat, yaitu: (1) sifat tabi’ yang diartikan dengan sifat objektif; (2) sifat matbu’ yang dapat diartikan dengansifat objektif.

Ilmu objektif adalah ilmu yang keberadaan objeknya tidak bergantung pada ada atau tidak adanya pengetahuan si subjek tentang objek tersebut.objek ilmu itu ada, tidak bergantungh pada telah diketahui atau belum diketahuinya oleh subjek yaitu manusia. Sebagaimana ilmu tentang allah SWT. Dan Rasul-Nya, tidak bergantung pada ada dan tidak adanya pengetahuan manusia tentang adanya allah dan rasul. Allah ada, baik manusia telah mengetahui keberadaan-Nya maupun belum. Adanya pengetahuan manusia atau tidak adanya pengetahuan manusia tentang keberadaan allah tidak menyebabkan ada dan tidak adanya Allah. Allah telah ada dengan sendiri-Nya (Qiamuh binafsihi), Allah tetap ada, baik manusia mengimaninya atau mengingkari-Nya (wajib al wujud ). Keimanan dan kekufuran manusia kepada Allah tidak berpengaruh bagi keberadaan-Nya
Sementara ilmu yang subjektif adalah ilmu yang kebenaranya objeknya bergantung pada ada tidak adanya subjek sehingga subjek tidak ada, ilmu pun tidak dinyatakan ada, keberadaan ilmu dalam kondisi relatif.


F.     Aksiologi pendidikan

Aksiologi pendidikan berkaitan dengan masalah ilmu dan pengetahuan (kognitio),maksudnya adalah memikirkan segala hakikat pengetahuan atau hakikat keberadaan segala sesuatu yang bersifat fisikal dan metafisikal, baik yang umum maupun yang khusus. Oleh karena itu, kajiannya mengarahkan diri pada dasar-dasar pengetahuan dalam bentuk penalaran, logika, sumber pengetahuan, dan criteria kebenaran. Demikian pula dengan aspek ontologinya, kajian tentang hakikatnya mengarahkan diri pada hal-hal yang sifatnya metafisikal, asumsial, dan batas-batas oenjelajahan ilmu yang dilengkapi perspektif epistemologis tentang system berfikir dan struktur pengetahuan ilmiah.

Tujuan pendidikan atau aksiologi pendidikan secara esensial adalah terwujudnya anak didik yang memahami ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Terwujudnya insan kamil, yaitu manusia yang kembali pada fitrahnya dan pada tujuan kehidupannya yang sejati.




Aksiologi pendidikan juga berkaitan dengan aliran-aliran pendidikan yang terus berkembang. Diantara aliran-aliran pendidikan tersebut adalah sebagai berikut.
           

1.      Positivisme

Positivime dibangun oleh August Comte (1798-1857 M) yang titik tolak ajarannya adalah tanggapannya atas perkembangan pengetahuan manusia, baik perseorangan maupun umat manusia secara keseluruhan, melalui tiga zaman ini merupakan hokum yang tetap. Ketiga zaman tersebut adalah zaman teologis, zaman metafisis, dan zaman ilmiah atau positif.

Menurut positivism, pendidikan bertujuan agar masyarakat menyadari bahwa kebenaran harus ditandai oleh sesuatu yang empiris, realities, dan indriawi. Jika pendidikan hanya mengandalkan idealisme, hal tersebut sama dengan menghasilkan hayalan belaka.

Paradigma positivisme sangat digandrungi di dunia Barat. Oleh karena itu, menurut paradigma Barat,kebenartan merupakan hal yang bersifat empiris, indriawi, dan konsistensi. Kebenaran tidak akan ditemukan dalam agama atau berbagai pendekatan teologis karena masa teologis merupakan masa kebodohan yang akan membuat masyarakat selamanya terbelakang. Oleh sebab itu, dalam pandangan barat, pendidikan yang diberikan kepada masyarakat harus merupakan pendidikan yang berujung pada penemuan kebenaran positivistic dan bermanfaat bagi manusia. Manusia adalah dewa bagi manusia itu sendiri

2.      Renaisans

Istilah renaisan berasal dari bahasa Perancis, berarti kebangkitan kembali. Para sejarawan menggunakan istilah tersebut untuk menunjukan berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya di Eropa. Orang yang pertama menggunakan istilah tersebut adalah Jules Michelet, sejarawan perancis terkenal menurutnya, renaisan periode penemuan manusia dan dunia bukan sekedar sebagai kebangkitan kembali yang merupakan permulaan kebangkitan modern. Apabila dikaitkan dengan keadaan, renaisan adalah masa antara zaman pertengahan dan zaman modern yang dapat dipandang sebagai masa peralihan. M,asa ini ditandai dengan terjadinya sejumlah kekacauan dalam bidang pemikiran. Pada satu pihak, terdapat astrologi kepercayaan yang bersangkutan dengan dunia hitam,perang agama,dan sebagainya,dan pada pihak lain, muncul ilmu pengetahuan alam modern serta mulai berpengaruhnya sesuatu perasaan hidup baru. Saat itu, munculah usaha-usaha penelitian empiris yang lebih giat yang pada akhirnya memunculkan sains bentuk baru.

Ciri utama renaisan adalah humanisme, individualisme, terlepas dari agama (tidak ingin diatur oleh agama), emprisme, dan rasionalisme. Hasil yang diperoleh dari watak tersebut adalah berkembangnya pengetahuan rasional. Filsafat berkembang bukan pada zaman renaisan, melainkan pada zaman sesudahnya ( zaman modern). Sains berkembang karena semangat dan hasil empirisme.agama (Kristen) semakin ditinggalkan karena semangat humanism ini kelihatan dengan jelas pada zaman modern, rupanya setiap gerakan pemikiran mempunyai kecenderungan menghasilkan positive, tetapi sekaligus yang negative.

3.      Humanisme

Menurut Ali Syariati, berkaitan dengan eksistensi manusia, bagian dari aliran filsafat yang menyatakan bahwa tujuan poko dari segala sesuatu adalah demi kesempurnaan manusia. Aliran ini memandang bahwa manusia adalah makhluk mulia yang semua kebutuhan poko diperuntukan untuk memperbaiki sepesiesnya,

Ada 4 aliran yang mengklaim sebagai bagian dari humanism, yaitu: (1) liberalism Barat; (2) markisme; (3) eksistensialisme, dan (4) agama. Liberalisme Barat menyatakan diri sebagai pewaris asli filsafat dan peradaban humanism dalam sejarah, dan itu dipandangnya sebakgai aliran pemikiran peradaban yang dimulai dari Yunani Kuno dan mencapai puncak kematangan kesempurnaan relatifnya pada Eropa Moderen.

Humanisme Yunani berusaha untuk mencapai jati didri manusia dengan seluruh kebenciannya kepada Tuhan dan pengingkaranya atas kekuasaan-nya, serta memutuskan tali perhambaan manusia dengan “lang\it”, ketika ia menjadikan manusia sebagai penentu benar atau tidak nya suatu perbuatan, dan menentukan bahwa segala potensi keindahan terletak pada tubuh manusia. Humanisme Yunani hanya memerhatikan unsur-unsur yang mengagungkan keindahan kekuasaan atau kenikmatan bagi manusia.

Dalam humanisme, manusia adalah sebagai berikut.

1.      Makhluk asli, artinya mempunyai substansi yang mandiri diantara makhluk-mahkluk yang mempunya wujud fisik dan yang gaib, dan mempunyai esensi genera yang mulia (essence generique)

2.      Makhluk yang memiliki kehendak bebas, dan ini merupakan kekuatan paling besar yang luar biasa dan tidak bias ditafsirkan-suatu irada dengan pengertian bahwa manusia sebagai “sebab awal yang mandiri”.

3.      Makhluk yang sadar (berfikir) merupakan karakterristik menonjolnya, yaitu sadar dalam pengertian bahwa manusia memahami realitas alam luar dengan kekuatan “berpikir”-nya yang menajubkan dan merupakan suatu mukjizat .

4.      Manusia tidak pernah menjadi seuatu yang lain, kecuali seonggok daging yang tidak berarti, dan sekedar viru kecil sudah cukup untuk mematikanya.

5.      Makhluk yang sadar akan dirinya sendiri. Artinya, dia adalah makhluk hidup satu-satunya yang memiliki pengetahuan budaya dan nisbat dengan dirinya.

6.      Manusia kreatif. Kreatifitas yang menyatu denga perbuatannya ini, menyebabkan manusia mampu memjadikan dirinya sebagai makhluk sempurna di depan alam dan di hadapan Tuhan.

7.      Makhluk yang mempunyai cita-cita dan merindukan sesuatu yang ideal,dalam arti dia tidak akan menyerah dan menerima “apa yang ada”, tetapi selalu berusaha mengubahnya menjadi “apa yang semestinya”.

8.      Mahkluk moral dan bernilai. Nilai-nilai adalah ungkapan tentang hubungan manusia dengan salah satu fenomena, cara ,kerja, atau kondisi,yang didalamnya terdapat motif yang lebih luhur dari pada keuntunngan (utilite).

Humanisme telah membawa dunia pendidikan Barat pada tujuan utamanya, yaitu memanusiakan. Manusia adalah tujuan sentral dalam pendidikan. Materialism, eteisme, liberalism, dan naturalism sebagai bagian yang sama-sama menegaskan bahwa pendidkan,ilmu pengetahuan, dan teknologi dikembangkan hanyalah untuk memberikan kemulyaan pada jatin diri manusia.

4.      Naturalisme

Kata nature atau “alam” yang dipakai dalam filsafat, bukan hanya terbatas pada alam lautan,gunung,dan kehidupan liar, melainkan tercakup di dalamnya astronomi yang mencakup bagian-bagian yang luas dari ruang dan waktu,dari fisika dan kimia seta analaisisnya yang bersifat atom dan subatom.

Tujuan pendidikan Barat yang berpegang pada naturalisme menegaskan bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan segala-galanya. Oleh sebab itu pendidika harus ditujukan pada kepentingan alam, termsuk kepentingan manusia, tetapi manusia harus berusaha agar dunia pendidikan yang dikembangkan ditujukan untuk melestarikan alam.

5.      Materialisme

Istilah materialism didefinisikan dengan beberapa cara. Pertama,materialism adalah teori yang mengatakan bahwa atom materi yang berada sendiri dan bergerak merupakan unsur-unsur yang membentuk alam, akar, dan kesadaran (consciousness),termasuk segala proses fisikalnya merupakan mode materi tersebu yang dapat disederhanakan menjadi unsure-unsur fisik. Kedua,doktrimn alam semesta dapat ditafsirkan seluruhnya dengan sains fisik. Kedua definisi tersebut mempunyai implikasi yang sama, walaupun menyajikan bentuk materialism yang lebih tradisional. Doktrin tersebut dijelaskan sebagai energism yang mengembalikan segala sesuatu pada bentuk energy, atau sebagai bentuk dari “positivisme” yang member tekanan untuk sains dan mengingkari hal-hal seperti ultimate nature of reality.

a)      materialisme mekanik

Dalam arti sempit, materialism adalah teori yang mengatakan bahwa semua bentuk dapat diterangkan menurut hokum yang mengatu materi dan gerak. Materialism berpendapat, semua kejadian dan kondisi adalah akibat yang lazim dari atau bentuk-bentuk yang lebih tinggi. Alam hanya merupakan bentuk yang lebih kompleks dari pada bentuk in-organik atau bentuk yang lebih rendah. Bentuk yang lebih tinggi tidak mengandung materi atau energy baru. Prinsip sains fisik berfungsi menerangkan segala yang terjadi atau yang ada. Semua oproses alam, baik inorganik atau organic telah dipastikan dan dapat diramalkan,jika segala fakta tentang kondisi sebelumnya dapat diketahui.

Dasar-dasar materialism dibentuk oleh sains matematika dan fisika.prinsip-prinsip penjelasan tersebut, kemudian dipakai oleh ilmu-ilmu biologi, psikologi, dan imu masyarat.

Pandangan materialisme mekanik tentang tujuan pendidikan adalah terwujudnya manusia yang memahami fenomena alam secara mekanik dengan cara mengembangkan pemahaman matematik terhadap semua gejala alam. Anak didik dibina dan dikembangkan untuk memahami paradigma ilmu pengetahuan yang diperoleh hanya diyakini sebagai gejala dari materi alam ini.

Tujuan pendidikan Barat yang berpenggang pada paham materialisme adalah sebagai berikut.
           
1.      Pendidikan adalah alat untuk mewujudkan manusia yang memahami sifat jasmaninya yang merupakan materi semata.

2.      Manusia seperti alam lainnya, hanyalah badan yang akan memudar sehingga tujuan pendidikan Barat hanyalah untuk menfungsikan jasmani manusia sehingga bermanfaat bagi kehidupannya.

3.      Kehidupanmanusia tidak ada kaitannya dengan alam lain, seperti adanya roh dan alam akhirat. Oleh karena itu, tujuan pendidikan Barat dengan paham materialisme tidak berkaitan dengan agama atau keyakinan tertentu dengan eksistensinya tidak ada karena “bukan materi”

b)      Materialism historis

Dialektikal hegel digunakan untuk memahami gejala masyarakat. Pengertian materialisme historis disini adalah dalam Hegel, “roh” yang terjun dalam materi atau alam yang merupakan antithesis. Roh dan alam didamaikan  dalamn sintesis, seni, agama, dan filsafat. Dalam proses dilektik, dibicarakan tentang alinasi, yaitu jika roh terjun dalam materi yang merupakan “Negara asing”. Roh berada”diluar dirinya sendiri”. Akan tetapi menurut Marx tidaklah demikian. Manusia bukan roh yang terjun dalam materi. Manusia “bergantung“ pada alam, tetapi ia mempunyai sifat aktif terhadap alam.

Pandangan ini mengisyaratkan bahwa tujuan pendidikan dasar yang berpaham pada materialism historis, adalah menciptakan manusia yang memiliki kemampuan membangun sejarah kehidupannya dengan cara menghidupkan martabat kemanusiaan melalui karya-karya nyata dan berguna bagi manusia. Pendidikan bagi materialism historis adalah alat untuk mengabadikan jasa-jasa manusia sebagai makhluk yang bersejarah, meskipun manusia tidak lebih dari alam yang akan musnah

Pendidikan harus dituukan dan diutamakan untuk kaum tertindas. Mereka harus dibebaskan dari berbagai perilaku yang diskriminatif. Hak-hak rakyat atau manusia harus diambil dari kekuasaan kaum borjuis dan kapitalis, bahkan Negara pun tidak berhak menguasai hak-hak rakyat. Demikian pula dengan pendidikan, untuk kepentingan manusia agar Negara dan kekuasaan tidak di salah gunakan untuk menghancurkan kepentingan manusia. Manusia yang dimaksudkan adalah komunisme.

Materialism mekanik mengharuskan pendidikan yang bertujuan untuk menciptakan manusia yang dapat berkerja dan meninggikan harkat dan martyabatnya. Pekerjaan yang paling mulia bagi manusia adalah pekerjaan yang mandiri dan terbebas dari belenggu kaum kapitalis borjuis.

6.      Pragmatisme

Paragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar perantara akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistis, semuanya bias diterima sebagai kebenaran dan dasar tindakan asalkan membawa akibat praktis yang bermanfaat. Dengan demikian, patokan paragmatisme adalah “manfaat bagi hidup praktis.”

Tujuan pendidikan Barat pragmatism adalah sebagai berikut.

1.      Pendidikan adalah bentuk pengembangan kecerdasan manusia yang bermanfaat bagi manusia maka manfaat menjadi tujuan pendidikan.
2.      Manfaat dan kegunaan pendidikan dapat bersifat teoritis atau praktik yang mempermudah kehidupan manusia.
3.      Kenikmatan, kemakmuran, dan kemuliaan yang diperoleh melalui pendidikan menjadi pusat tujuan pendidikan Barat sehingga paragmatisme dapat melahirkan hedonism, liberalisme, dan ateisme.

i)        Perspektif aksiologi penyelenggaraan pendidikan
Dalam bidang aksiologi, masalah etika yang mempelajari tentang kebaikan ditinjau dari kesusilaan, sangat prinsip dalam pendidikan. Hal ini terjadi karena kebaikan budi pekerti manusia menjadi sasaran utama pendidikan dan karenanya selalu dipertimbangkan dalam perumusan tujuan pendidikan. Menurut Drost (2005), pendidikan bukan hanya soal kemajuan otak ataupun pengetahuan kognitif. Pendidikan juga bertujuan juga mengembangkan pribadi anak didik agar menjadi manusia yang utuh dengan segala nilai dan seginya. Oleh karena itu, pendidikan juga dapat mengajari nilai-nilai kehidupan manusia yang dianggap perlu seperti nilai sosialitas, nilai demokrasi, nilai kesamaan, persaudaraan dan lain sebagainya.
Di samping itu pendidikan sebagai fenomena kehidupan sosial, kultural dan keagamaan tidak dapat lepas dari sistem nilai. Dalam masalah etika dan estetika yang mempelajari tentang hakekat keindahan, juga menjadi sasaran pendidikan, karena keindahan merupakan kebutuhan manusia dan melekat pada setiap makhluk. Di samping itu pendidikan tidak dapat lepas dari sistem nilai keindahan tersebut. Dalam mendidik ada unsur seni, terlihat dalam pengungkapan bahasa, tutur kata dan prilaku yang baik dan indah (Huda, 2008).
Unsur seni mendidik ini dibangun atas asumsi bahwa dalam diri manusia ada aspek-aspek lahiriah, psikologis dan rohaniah. Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia dalam fenomena pendidikan adalah paduan antara manusia sebagai fakta dan manusia sebagai nilai. Tiap manusia memiliki nilai tertentu sehingga situasi pendidikan memiliki bobot nilai individual, sosial dan bobot moral.
Javons menyatakan bahwa seni mengajarkan kepada kita berbuat, dan sebuah ilmu mengajarkan kepada kita mengetahui. Horne menyatakan bahwa pendidikan adalah berbuat, oleh karena itu pendidikan adalah sebuah seni. Bahwasanya hakekat tubuh yang terdiri atas jasmani, rohani dan akal harus mendapatkan pendidikan yang proporsional. Proses mendidik ketiga unsur tersebut berkenaan dengan metode terbaik yang harus dilakukan dengan cara terbaik. Metode pendidikan tidak hanya didasarkan pada psikologi, tetapi juga sifat fisik, mental dan sosial dari bahan ajar dan anak yang dididik. Oleh karena itu, dibutuhkan jiwa seni dalam mendidik sehingga anak yang dididik dapat terbentuk jiwa seninya dalam menghadapi kehidupan mereka di masa depan (Mudyahardjo, 2008).
Itu sebabnya pendidikan dalam prakteknya adalah fakta empiris yang syarat nilai dan interaksi manusia dalam pendidikan tidak hanya timbal balik dalam arti komunikasi dua arah melainkan harus lebih tinggi mencapai tingkat manusiawi. Untuk mencapai tingkat manusiawi itulah pada intinya pendidikan bergerak menjadi agen pembebasan dari kebodohan untuk mewujudkan nilai peradaban manusiawi (Huda, 2008).
ii)      Hubungan antara aksiologi dengan pendidikan

Aksiologi mempelajari mengenai manfaat apa yang diperoleh dari ilmu pengetahuan,menyelidiki hakikat nilai,serta berisi mengenai etika dan estetika.Penerapan aksiologi dalam pendidikan misalnya saja adalah dengan adanya mata pelajaran ilmu sosial dan kewarganegaraan yang mengajarkan bagaimanakah etika atau sikap yang baik itu,selain itu adalah mata pelajaran kesenian yang mengajarkan mengenai estetika atau keindahan dari sebuah karya manusia.

Dasar Aksiologis Pendidikan adalah Kemanfaatan teori pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab.





BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Epistemologi adalah kata lain dari filsafat ilmu berasal dari bahasa latin episteme,berarti knowledge, yaitu pengetahuan dan ,berarti theory. Jadi, epistemologi, berarti “teori pengetahuan” atau teori tentang metode, cara, dan dasar ilmu pengetahuan, atau studi tentang hakikat tertinggi, kebenaran, dan batasan ilmu manusia. Ontologi pendidikan,yaitu substansi pendidikan dalam semua perspektifnya,sebagaimana melihat pendidikan dari tujuan esensialnya sebagai pencapaian maksimal dari pendidikan,













DAFTAR PUSTAKA
·         Drs. Anas Salahudin, M.Pd. Filsafat Pendidikan, Pustaka Setia bandung,2011.


















MAKALAH
FILSAFAT PENDIDIKAN
Epistimologi, Ontologi, dan Axiologi Filsafat Pendidikan
Dosen pembimbing: Rapiko, M.Pd


Disusun Oleh:
Andi Susanto
Asmaul Husna
Dwi rizki safitri
Indra
Khoirul Mustaqim



FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN TADRIS BAHASA INGGRIS INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar